welcome to ikatan sosiologi indonesia nasional

Kontak

ISI Sosiologi
Jurusan Sosiologi FISIPOL UGM
Sosio Yustia 2, Yogyakarta
E. sekretariat@isi-sosiologi.org
E. wacana3000@gmail.com

@. Facebook/ISISosiologi
@. Twitter/ISISosiologi

Keanggotaan

Registrasi formulir keanggotaan Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) melalui form.

Sharing Informasi

Untuk memberikan informasi terbaru, silahkan akses : form.

Link terkait :
APSSI | APSA | ISA

Global Dialogue edisi 7.2

Duterte, Erdogan, Orban, Putin, Le Pen, Modi, Zuma dan Trump–mereka semua tampaknya berasal dari cetakan nasionalis, xenofobia, otoriter yang sama. Kemenangan Trump telah menyuntikkan tenaga baru bagi bangkitnya gerakan-gerakan iliberal dan kediktatoran sayap kanan. Sebenarnya reaksi politik semacam itu sudah dimulai puluhan tahun silam ketika demokrasi liberal mendorong perluasan ekonomi pasar gelombang ketiga yang ditandai dengan kerawanan, pengucilan dan ketimpangan. Peralihanmenuju fasis tahun 1920an dan 1930an, mendahului apa yang sekarang terjadi, mengikuti perluasan ekonomi pasar gelombang kedua. Perkembangan tersebut runtuh bersamaan dengan PerangDunia Kedua, tetapi bisakah kita yakin bahwa gelombang reaksi ini dapat dikalahkan? Seberapa kuatkah lembaga-lembaga demokrasi liberal? Hari-hari pertama pemerintahan Trump memberi kesan bahwa lembaga-lembaga tersebut masih mempunyai ketahanan dalam menghadapi serangan perintah-perintah eksekutif presiden. Artikel yang ditulis oleh Portocarrero dan Lara Garcia menyebut universitas sebagai salah satu gelanggang perlawanan semacam itu.
Bagaimana dengan negara-negara lain?

Dalam edisi ini Walden Bello menggambarkan kekejaman Presiden Filipina Duterte, yang kebangkitannya ke tampuk kekuasaan bisa ditelusuri dari gagalnya demokrasi liberal, menyusul dilengserkannya rezim Marcos - kegagalan-kegagalan yang dinyatakan dalam bentuk korupsi politik secara terang-terangan, ketimpangan yang melebar, diperparah oleh ketaklukan pada politik luar negeri Amerika Serikat. Reaksi politik terhadap cacat demokrasi liberal ini boleh jadi sifatnya populis bahkan ketika reaksi tersebut sebenarnya melindungi kepentingan kelas-kelas dominan sambil mengutuki (demonize) sebagian penduduk yang menyandang stigma – seperti para pengguna dan pengedar narkoba - sebagaimana halnya Erdogan mengutuki orang-orang Kurdi, Trump mengutuk imigran, dan fasisme Jerman mengutuk kaum non-Aria. Kalau dicermati, uraian Bello tentang kemiripan dengan fasisme Jerman sedemikian meyakinkan.Pakistan adalah suatu negara lain yang tidak asing dengan pemerintahan militer di mana daya tarik populisme bergandeng tangan dengan konsentrasi kekuasaan ekonomi. Sosiologi Pakistan merupakan suatu kegiatan yang sangat terbatas tetapi inovatif dan kritis seperti yang kita jumpai dalam edisi ini lewat artikel-artikel tentang bagaimana pembangunan infrastruktur menguntungkan perusahaan-perusahaan multinasional, bagaimana negara-negara Teluk melakukan pemeriksaan badan (surveil bodies) untuk memilih buruh migran Pakistan yang [secara fisik] paling produktif [untuk bekerja], dan bagaimana masuknya perempuan ke dalam pasar tenaga kerja tidak berakibat banyak bagi penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kami juga memuat dua penelitian mengenai orang-orang Pakistan di Inggris, yang mempelajari perubahan-perubahan dalam hubungan pernikahan imigran asal Pakistan dan bagaimana mahasiswa Muslim bersikap terhadap kebijakan keamanan (securitization) yang menjadikan mereka sebagai sasaran. Secara bersama-sama, kelima studi kasus tersebut membentuk bangunan sosiologi pascakolonial yang murni tentang penindasan yang melampaui batas-batas negara.


Yang sangat berbeda ialah sosiologi dari Kanada yang lebih optimistis, terkait isu-isu seperti imigrasi dan keadilan lingkungan. Sosiologi Kanada jauh lebih dekat dengan dunia kebijakan. Meskipun ada kecaman bernada melecehkan dari mantan Perdana Menteri Stephen Harper, para sosiolog Kanada pada umumnya cukup dihargai oleh masyarakat luas. Nada keputusasaan dalam tulisan-tulisan mereka itu hanyalah cermin dari harapan tinggi mereka terhadap suatu negara yang masih berciri sosial demokrat. Jika ada seorang sosiolog yang berhasil memahami pentingnya era kita ini, orang itu tak lain adalah Zygmunt Bauman, yang sayangnya telah meninggal dalam usia 91 tahun. Tiga tulisan dalam edisi ini mengenang kehidupannya yang luar biasa, yang dipandu oleh suatu visi moral yang kuat dan dibumbui dengan utopianisme skeptis. Warisan sosiologinya yang inspiratif akan terus dikenang hingga puluhan tahun ke depan.

 

http://isa-global-dialogue.net/wp-content/uploads/2017/06/v7i2-indonesian.pdf