Dialog Global 11.3

Perubahan iklim dan bencana ekologis, pekerjaan yang rentan, kondisi kerja yang buruk dan kemiskinan, ketimpangan ekonomi dan sosial di seluruh penjuru bumi—inilah beberapa masalah di antaranya yang mendesak di jaman kita. Dalam perdebatan sosiologis, kita menemukan refleksi yang luas mengenai modernitas dan kapitalisme, dan bagaimana ide-ide tentang kemajuan dan pertumbuhan serta ekonomi menyebabkan reproduksi ekologis dan sosial menghadapi risiko besar. Edisi Dialog Global kali ini memusatkan perhatian pada analisis atas masalah-masalah yang disebabkan oleh konsep-konsep dominan mengenai hubungan manusia-alam dan prinsip-prinsip ekonomi, dalam kaitannya dengan pekerjaan dan tenaga kerja maupun cara hidup di berbagai belahan dunia. Beberapa artikel menengok kembali kepada pemikiran klasik, beberapa yang lain mencoba menganalisis aspek-aspek baru dari relevansi masa depan mereka, dan sebagian yang lain lagi merefleksikan diagnosis penting atas beberapa perkembangan masa kini.

Edisi ini dibuka dengan wawancara yang dilakukan oleh wartawan Austria terkemuka, Armin Thurnher, dengan filsuf Amerika Serikat dan ahli teori kritis terkenal, Nancy Fraser. Ia merefleksikan pengalaman biografisnya di kubu kiri, menyampaikan analisisnya atas kapitalisme kontemporer, dan menunjukkan bahwa pandemi yang terjadi saat ini harus dianggap sebagai efek dari sistem ekonomi yang menggerus dan merusak fondasi sosial dan ekologis kehidupan.

Pada bagian teoretis, Michael Fine menganalisis marketisasi perawatan dan kerja perawatan dan bentuk-bentuk tata kelolanya masing-masing serta pengaruhnya dalam hal penyediaan perawatan yang tidak memadai dan kondisi kerja yang buruk. Pandemi dan terutama kematian di panti-panti wreda yang terkait dengannya menunjukkan kecenderungan destruktif dari masyarakat pasar semacam itu. G. Günter Voss menyajikan diskusi mendalam mengenai kerja dan tenaga kerja dengan mengacu pada filsafat, ilmu politik dan ilmu sosial klasik dan modern. Lebih jauh, artikelnya juga menyoroti keterkaitan yang kompleks antara kerja dan tenaga kerja yang berbayar dan tidak berbayar serta signifikansinya bagi kehidupan masyarakat.

Simposium yang pertama melanjutkan refleksi tentang kerja dan tenaga kerja ini dengan mengombinasikan pemikiran teoritis dan temuan empiris. Forum ini mengajak menjelajah keliling dunia untuk menyelidiki berbagai bentuk kerja dan tenaga kerja serta menganalisis kondisi kerjanya masing-masing. Rafia Kazim menunjukkan bagaimana pandemi memengaruhi pekerja migran di India, sementara Chris Tilly merefleksikan fenomena global kerja rentan dan informal. Studi banding dari Austria, Jerman dan Swiss menggambarkan berbagai jasa perawatan dengan pola menginap. Para ilmuwan dari Afrika Selatan dan Inggris memfokuskan pada kerja digital, mendiskusikan fungsi dan pengaruh algoritma, relevansi kerja platform di belahan Selatan Global dan berbagai perspektif masa depan, serta ekonomi gig daring dan keamanan dari apa yang dijuluki “pekerja cloud”.

Simposium yang kedua mengangkat perdebatan kritis tentang konsep Antroposen. Sementara beberapa kontributor memutakhirkan perspektif mereka mengenai konsep ini, beberapa kontributor lain mengajukan telaah yang lebih kritis terhadapnya. Semua kontributor merefleksikan secara kritis relasi yang hierarkis antara manusia dan alam (non-manusia) serta mendiskusikan topik yang cukup luas dalam perdebatan sosiologis dewasa ini. Ariel Salleh mengkritik konsep modern mengenai alam serta bentuk dominasi kapitalis dan partiarkal dengan menghadapkannya pada gagasan dan pendekatan eko-sosialis dan dan eko-feminis serta pendekatan yang berasal dari gerakan sosial. Bertolak dari arus penelitian berbeda, Shoko Yoneyama dan Gaia Giuliani memusatkan perhatiannya pada diagnosis kontemporer atas Antroposen dengan menunjukkan batas-batasnya serta mendiskusikan potensialitas dari beberapa pendekatan untuk mendefinisikan ulang relasi manusia-alam. Ulrich Brand dan Markus Wissen menelaah bagaimana “moda hidup imperial” dan cara eksploitasi tenaga kerja dan alamnya dapat menjadi hegemonik. Berangkat dari sudut pandang serupa, tulisan Jason W. Moore membongkar konsep Antroposen sebagai yang bersifat ideologis dan sebagai gantinya mengajukan analisis geohistoris mengenai Kapitalosen.

Yang tidak kalah penting adalah beberapa tulisan yang berisi wawasan dalam sejarah perkembangan sosiologi. Mounir Saidani menghimpun beberapa artikel dari para sosiolog di kawasan Magribi. Dengan membawa perspektif dari Aljazair, Tunisia dan Libya, mereka merefleksikan komunitas ilmiah, penelitian dan pengajaran, serta sosiologi profesional dan (non-) publik di wilayah ini. Yang terakhir namun tidak kalah penting ialah “Seksi Terbuka”, berisi analisis mengenai berbagai aktivitas akar rumput dalam menghadapi kondisi pandemi di Zambia, diskusi tentang paradigma Ibu Khaldun tentang sains baru, dan refleksi tentang konsep imajiner dalam konteks sosiologi hukum Brasil

Publikasi bisa diakses

https://globaldialogue.isa-sociology.org/languages/indonesian